kolom santri

Tanya Lihatku

Motif batik yang ku lihat itu Seperti ada di hutan sana Mataku menangkap sesuatu Saat ku raba Kain panjang itu Pondasi coklat dengan warna gambar putih dan hitam Biar ku bercerita, kawan Saat kakiku menapaki jalan Terjal bukit rendah itu Tiba-tiba Seekor burung gereja Terbang rendah di hadapanku Berputar-putar Aku heran, mengapa? Tanyaku dalam hati Tak lama waktu itu Ia pun jatuh Dengan kaki tergijal-gijal Ku dekatinya Ku sentuh Namun

Harta Terpendam karya Amelia

Kulihat seorang pemuda Berdiri depan pintu rumahku Mengambang … Siapa gerangan…? Tanpa satu kata terpatah Menghilang … berbaur menjadi Satu … Dengan sang bayu Dipandang belantara Rimbun daun bambu Terlihat kawanan sriti Melintas menembus awan Kata senja Aneh bukan…? Biarlah … Pikir apa aku? Biarkan aku menjadi cerita Yang memang tak kau ingin Dan biarkan menjadi sejarah Yang akan selalu Terkenang namaku Walau telah berbantal gelu

Abad 21 hebat karya Usup Mafullah

Aku mengambil sebatang rokok Di kamar kecilku, tapi penuh kenangan ku hembuskan berkali-kali Sampai hembusan ku membentuk sebuah harapan Aku mengambil secangkir kopi hitam Di meja bundar, tapi penuh kebahagiaan ku seruput sedikit demi sedikit Tuk mencairkan rasa damai tentramku pada dunia Aku beranjak dari tempat dudukku Dari kursi goyang yang rapuh dan hampir pecah Namun, penuh dengan kemanfaatan yang berarti Ku lihat medan perang manusia dari balik kaca Dan

Hilang

Ranting telah patah Tanahlah yang menyelamatkannya Airpun ikut menimpanya Hingga bunga tumbuh diatasnya Rantingku tak berdaya Tubuh realistisnya Tak mau menerimanya Ia harus apa? Bila tanah menahannya Ku harus lepaskan Dengan cepatnya angin berlalu ku kan merelakan

Lintasan Tawa

Gumamnya menderu Menampakkan wajah badutnya Seraya menertawa Ia menggerutu Terbalas dengan tawa Lelapnya Menenangkan suasana Cepat laju ia berlari Meretakkan muramnya wajah Dingin… panas… Tercampur dalam satu kisah Bersamanya       Muna

Gitaris kami karya Yuda Putra

Satu nama sejuta kenangan Gitar kecil jadi saksi bisu kenangan tentangmu Waktu demi waktu nada telah ku rangkai Kini gugur bersama kenanganmu Ku ingat saat kau petik dawai-dawai keemasan Tak terasa secepat ini engkau melepaskan Petikan-petikan dawai keemasan itu Padahal dawai telah disematkan Kami percaya di balik manisnya pertemuan Pasti akan ada pahitnya perpisahan Kini tinggal nama dan sejuta kenangan yang kuingat Tanpa ada jasad Dan juga senyuman Hanya ada

Rapuh dalam sejengkal karya Aprilia M

Aku mulai musnah dan tak dapat menjangkau kembali Sekali aku harus memaksakan kehadiran iblis sekalipun Aku terengah-engah Karnanya aku tak tau sebagaimana peradaban emas sedemikian Aku tak faham Tak dapat berpikir halnya seperti yang lain Dan berulang kali

Senyummu terasa akan membunuhku Manismu mengalahkan candu yang membeku Bola mataku terdiam terpacu wajahmu Mentalku terhambat oleh pijakan kakimu Tekanan darahku meningkat Denyut jantungku dipercepat Semua itu ulahmu Kau datangkan gelisah dalam hidupku Melebihi efek amfetamin milik kawanku Kelembutanmu bagai putau Yang mampu menciptakan ketagihan dalam jiwaku Senjaku pun menghilang Namun, Sang Morphius datang Mengembalikan senjaku Menghapus segala khayalanku Dan menciptakan hal baru yang mematikanku Sajak-sajakmu tiada apa? Semua celotehan

Sang Maestro karya Usup Mafullah

Derap kakimu… Meninggalkan jejak penuh kasih sayang… Tangan sucimu… Telah kau hormatkan pada pengabdianmu… Matamu yang sebinar-binar cahaya mentari… Melirik masa depan yang gemilang Pedang panjang telah kau keluarkan Kau perangi semua rasa kedustaan dunia Belati tuhan telah kau simpan Engkau menjaganya diantara bintang-bintang penuh impian Kuda perang ajak berlari menemukan cahaya harapan… Berjalan,,, Berlari,,, Bercanda tawa usai sudah Seseorang telah menghapus semua itu Dalam buku kecil dan berdebu Tetap

Rajutan senyum simpul Aku tak mengenal Derita hidup Yang mendera Ku bentangkan bahagia Dengan andaian Tak berujung Tatapku penuh cerita Dan hatiku banyak rasa Inilah yang sesungguhnya