puisi

Sragen Asri Karya Nurrohma

Sebuah kota kecil yang asri Begitulah ungkap mereka Mengetuk nadiku Untuk merenungi kota itu Di masjid besar Adzan mulai di kumandangkan Sementara Sandal dan sepatu Mulai hilang satu satu Apakah ini dapat di katakan aman? Mulai memasuki pasar-pasar Yang hampir tak pernah tidur Sayur sayur yang lama Tomat busuk  ,Cabai tampak keriput Apakah ini dapat di katakan sehat? Tepat di jantung kota Anak anak jalanan di bebaskan Mencari kehidupan Saat

Rintihan Kalbu

Gemercik embun menetes Dari sebuah daun yang tak goyah itu…. Terpaan angin lesus terus menghadang Ribua semut berbondong-bondong Berlomba menaikinya… Dahan itu pun tak mampu Bergoyah sekalipun Dengan kekuatan tekatnya Rintihan kalbu dari hatinya Itu pun terdengar Satu demi satu tetesan Embun itu tumpah Di rintihan kalbuku Sekon demi sekon telah berlalu Embun itu pun tak mampu Menampungi bak mutiara RINTIHAN KALBU Sukma Nur Jannah  

Kedekatan Seorang Hamba

Tepat seperapat jam Mata terbelat dan tergugah Tubuh mendekati air…. Denagn niat berwudhu ucapan keluar dari bibir Tipis, halus, dan merah Air gemericik keluar… kricik…kricik….. Mengalir membasahi bagian tangan Diambil kain putih bersih nan putih Dikenakan pada tubuhnya Ayat-ayat terucap denagn halus Subhanaulah seorang hamba Bangun di semperempat jam Hanya ingin mengerjakan sholat Dan mendekatkan diri pada ALLAH Subhanaullah Nunung Rismawati

Kesenangan ku Karya Amelia

Sebelum tumbuh menjadi besar pohon itu bercerita padaku menggugurkan daunnya disetiap malam dihadapanku “Aku diriku yang sekarang, kawan” Aku tersentak mendengarnya pikiranku berlayar jauh ke samudra luas “kenapa?” jawabku ia terdiam, lama sekali sampai aku tertidur di bawahnya di peluknya tubuhku hingga hangat sampai akupun terlupa untuk pulang tidur ke kamar ku. Di tengah – tengah malam ia membangunkanku dan menyuruhku untuk pulang namun sebelum itu diayunkannya rantingnya dan mengulurkan

Negeriku Karya Khoris

Ku melihat banyak kumpulan darah Di tepi medan perang Ini banyak sudah prajurit Yang telah tiada Tapi Indonesia tak pernah mati Negeriku kembali bangkit Walau hanya tersisa beberapa orang saja Tapi Jiwa persatuan itu selelu ada Dan kini Indonesia ku telah bangkit lagi Merebutkan sebuah kesatuan dalam Negeriku ini

Romeo Karya Wafda

Lelaki yang sering disebut kekasih Juliet Kisah cinta mereka membuat Roma menjadi sebuah cerita Cerita yang penuh teka –teki Dan kebahagiaan Suka duka di Roma Membuat mereka menjadi pasangan yang tidak bisa terlepaskan Perjuangan yang ditempuh Romeo Begitu besar untuk Juliet … Sebuah cinta yang banyak cobaan itu Akhirnya membuat akhir cerita cinta Mereka menjadi bahagia Itu Juliet lihatlah Romeo Oh … Romeo Dia adalah seorang yang setia dalam cintanya

Pegangan Tangan Sahabat karya Siti F

Sahabat ku renungkan ucapmu Lepaskan langkah tujuanku Prasasti ikatan sahabat Kau pegang dengan erat      Laksana lepas panah     Tak henti tak patah     Bara api kayu     Jadi saksi bisu renungku Mentari panas bagai api Semarak tak goyah tak mati Berjalan menuju satu titik tujuan Menjadi saksi perjuangan     Awal ku lengah     Tanpa daya ku melangkah     Tetesan air mata  

Ibu Pertiwi karya Ahmad Robi

Kumpulan batu-batu ini Dalam perut bumi yang keras Indah panca indranya Menembus ruang-ruang yang fana Melewati zaman ke zamanMenuju kejayaan abadi tak tertandingi Melewati lorong yang tak berpucuk Tapi… Dunia ini bukan tempat abadi Waktu demi waktu telah berlalu Meninggalkan zaman yang kelam Kini tinggal kenangan yang abadi Dari hati ke hati Ibu pertiwi.

Dalam Persinggahan Malam Itu Karya Amelia

Langkah ringan walau terbeban Jauh di ujung belantara tak terpandang Menjadi misteri tempat persinggahan Yang kami berterbangan kian kemari Mencari, lelah, menemukan Tuhan Bukan hanya sekedar berputar pada aturan Apa? Manusia mau kau jadikan taruhan? Takkan terhapuskan hanya sebagai cerita Atau goresan para penyair Ketika aku tergelincir kehilangan Sosok ibuku di ruang sunyi Ingatanu selalu bangkit, lalu Mengajakku menangis dalam haru Membuat aku rindu

Terkulai Tangis Terenggut Waktu

Terkulai tangis di pangkuan Terenggut waktu yang berhenti Selingkap kain meresap kilapan butir-butir air Hanya bisa menutupi Kejutan terindah itu Membungkam sajakku untuknya Desah desuh Tak mengerti apa yang terjadi Bukan pedal kecil yang memberangkatkannya Namun…. Gemerciknya air laut dalam Otak ini buntu Sandar penenangnya hanyut tanpa tinggal Redup hati ini untuknya Gelap awan terusung untukku Usai sudah Cukupkan untuknya Muna